ASAL USUL BATIK HOKOKAI

cerita Asal Usul Batik Hokokai

ASAL USUL BATIK HOKOKAI
galeri batik queenzi

Pada masa penjajahan oleh Jepang. Sekitar masa itu, muncul jenis batik Pesisir yang berbeda dari yang sebelumnya, sebagian besar di Pekalongan dan sekitarnya seperti Kedungwuni dan Batang. Nama Batik Hokokai diambil dari nama organiosasi yang membantu kegiatan Jepang menciptakan kemakmuran di Asia dalam berbagai kegiatan bekerjasama dengan orang Jawa. Batik Hokokai diciptakan para pengusaha Tionghoa dengan tujuan menyesuaikan diri dengan pemerintahan Jepang.

Meskipun namanya berbau Jepang dan muncul pada masa pendudukan Jepang, tetapi batik Hokokai tidak diproduksi untuk keperluan Jepang melainkan untuk orang-orang Indonesia sendiri. Batik - batik itu awalnya dipesan oleh orang dari lembaga Jawa Hokokai sebagai hadiah untuk orang-orang Indonesia yang dianggap berjasa dalam propaganda Jepang. Kemudian batik seperti ini menjadi mode dan banyak orang Indonesia kaya yang ikut membeli batik dengan ciri tersebut. meskipun pendudukan Jepang atas Indonesia dikenang sebagai masa penjajahan yang sangat pahit, tetapi kepahitan itu tidak muncul dalam ragam hias sama sekali. Justru batik Hokokai memberi kesan umum sebuah kegembiraan dengan warna cerah, bunga, kupu-kupu, merak

Batik Hokokai diproduksi orang Tionghoa dengan pola dan warna yang dipengaruhi budaya Jepang dengan latar pola batik keraton. Batik ini mulai berkembang pada masa pendudukan Jepang di Indonesia. Ragam hias pada batik Hokokai adalah bunga sakura, krisant, dahlia dan anggrek dalam bentuk buketan atau lung-lungan dan ditambah ragam hias kupu-kupu, selain itu ada pula ragam hias burung merak yang memiliki arti keindahan dan keagungan.

Ciri lainnya adalah warnanya sangat beraneka ragam. Pada satu kain bisa lima hingga enam warna dengan kombinasi yang berjuang seperti merah muda dengan hijau atau ungu dengan kuning. Pewarnaan dilakukan dengan warna kimia, dengan pencelupan berulang-ulang.

Motif utama batik ini, terdiri dari bunga-bungaan membentuk besar. Bunga yang sering muncul adalah peoni, seruni, sakura dan bunga-bunga yang pernah ada sebelum zaman Jepang. Seperti layaknya batik Pesisir, ragam hiasnya layak naturalis. Motif lain yang sering muncul adalah kupu-kupu dengan sayap warna-warni, burung merak dan kipas. Kupu-kupunya besar, Bukannya motif tambahan seperti zaman Jepang. Motif yang melingkar seperti pada kain batik terang bulan, yaitu pada dua sisi kain.

Susunan motif utama Batik Hokokai oleh orang Jepang disebut sushomoyo. Susho artinya batas motif bawah dan ditemui juga pada kimono yang motifnya penuh dan padat di bagian bawah, tetapi makin ke atas makin kecil atau makin jarang. Jika batik bercahaya bulan biasa dengan latar belakang polos, sebaliknya batik batik Hokokai mengalihkan motif yang lebih kecil, biasanya motif khas Indonesia seperti tanahan semarangan, kawung, atau parang. Tanahan semarangan yang motifnya kecil-kecil mulai dibuat oleh pembatik Cina peranakan di Solo tahun 1940 dan memulai wanita Cina peranakan di Semarang.

Yang menarik adalah ragam hiasnya dibatik memenuhi setiap senti kain. Jarang sekali ada bidang kosong. Beberapa pihak menganggap itu sebagai motif yang rumit di seluruh permukaan kain, dan aneka warna yang diperlukan proses pencelupan berulang-ulang itu mestinya ada alasannya. Sulit sekali mendapatkan kain putih untuk bahan pembatikan sulit sekali. Selain itu terjadi krisis pekerjaan. Supaya tidak terjadi akibat kain kelangkaan, sehelai kain dibatik serumit dan dicelup berulang-ulang sehingga memakan waktu yang lama.

Batik Hokokai memiliki kepala, badan, motif pinggir dan sered di sisi paling bawah dari kepala. Dua sisi kain, dua sisi badan yang berbeda. Mungkin karena kelangkaan kain, sehelai batik bisa dipakai pagi dan sore tanpa keciri kalau kainnya itu-itu juga. Karena itu ketika pada sehelai kain ada dua desain yang berbeda, atau desainnya sama tapi warnanya satu hitam yang terang, kain itu disebut kain pagi sore. Warna yang lebih cerah daripada biasa untuk pagi hari dan yang lebih kelam untuk sore hari. Kain seperti ini sudah ada sebelum zaman Jepang. Tidak benar jika kain panjang dikeluarkan untuk kimono. Bentuk pagi sorenya tidak bisa digunakan untuk kimono.

Meskipun batik Hokokai termasuk batik halus yang indah, jarang sekali cap atau tanda tangan pembuatnya diterakan. Mungkin mereka tidak mau masyarakat luas mengetahuinya. Jika mengingat saat itu sulit sekali mendapat kain putih halus dan bahan pembatikan yang baik, mungkin sekali bahan-bahan pembuat batik Hokokai dipasok oleh Jepang, dengan ketidakseimbangan kain batik yang sudah jadi. Ada yang mengeluarkan batik, baik itu yang dikirim oleh orang Jepang untuk istri mereka orang Indonesia atau untuk dihadiahkan kepada orang Indonesia dan Cina peranakan kelas atas di daerah Pekalongan yang telah membantu mereka. Meskipun nama pembuat tidak diterakan, dilihat dari kehalusannya, kain-kain yang dibuat di pembatikan-pembatikan milik Cina peranakan, Indo-Eropa dan Indo-Arab yang terkenal halus batikannya.

Setelah Perang Dunia II selesai, Jepang angkat kaki dari Indonesia, batik sebagai industri mengalami masa surut. Namun, motif-motif batik terus berkembang mengikuti suasana. Ketika itu juga muncul istilah seperti batik nasional dan batik baru. Batik baru bisa disebut sebagai evolusi dari batik Hokokai. Pada tahun 1950-an batik yang dihasilkan masih menunjukkan pengaruh batik Hokokai yaitu dalam pemilihan motif, tetapi isen-isen-nya tidak serapat batik Hokokai.