Asal Usul Batik Indramayu

cerita Asal Usul Batik Indramayu

Asal Usul Batik Indramayu

Pesisir jawa menjadi tempat pertemuan pedagang, pelawat atau agamawan dari bangsa luar. Di sini pula para penjelajah Barat pertama mendarat. Daerah pantai terletak jauh dari keraton. Penduduknya lebih terpapar dan lebih mudah memengaruhi luar, Jadi Pesisir utara Jawa menjadi tempat bertemunya peradaban. Pengaruh itu bisa datang dari daerah lain di Nusantara, bisa juga dari para pendatang luar yang menetap dan menikah dengan penduduk lokal.

Begitu juga dengan Batik Indramayu yang banyak dipengaruhi dari luar. Indramayu serta sekitarnya merupakan komunitas warga nelayan serta pelabuhan besar di laut utara Jawa yang kerap disinggahi kapal- kapal asing. Membatik dikerjakan oleh para isteri nelayan pada dikala para suami melaut serta bertujuan menaikkan pendapatan keluarga. Mereka memakai canting berdimensi besar, sehingga kerepotan buat mengisi penuh desain batiknya.

Buat mengisi bidang- bidang kosong, terbuat perlengkapan cocohan dengan complongan yang berupa semacam sisir dengan duri tajam yang digunakan buat mempenetrasi kain begitu berakhir dicover dengan parafin. Sehabis dicelup, titik- titik membentuk corak cocok celupan.

 

Macam Batik Indramayu banyak termotivasi oleh mahluk laut serta ornamen- ornamen dari Tiongkok, mengingat posisinya yang terletak di wilayah pesisir serta terdapatnya komunitas Tiongkok dalam jumlah besar di wilayah tersebut. Motif pada batik ini berbentuk sayap ganda (mirong) yang berasal dari Jawa Tengah dengan bunga- bunga dari Tiongkok dengan latar berbentuk titik- titik halus yang diucap cocohan. Cocohan diperoleh dengan metode menusukkan serangkaian duri pada permukaan kain yang telah ditutup parafin, yang hendak menciptakan titik- titik halus sehabis diwarnai.

Batik yang terkenal di Indramayu adalah batik Paoman, batik ini berasal dari daerah Paoman yang berada di sekitar Indramayu. Motif batik complongan Indramayu merupakan wilayah pesisir yang banyak memiliki kekayaan budaya. Pengaruh budaya luar sangat mempengaruhi dalam pemberian corak batik Indramayu, terutama pengaruh dari China dan Arab. Masyarakat Indramayu sangat terbuka dalam menerima pengaruh budaya dari luar dengan bersikap luwes dan menyesuaikan dengan nilai-nilai budaya lokal Indramayu. Selain karena pengaruh budaya Cina yang kuat, batik indramayu juga dipengaruhi unsur budaya Islam yang ditunjukkan pada beberapa corak batik Indramayu, antara lain corak batik kaligrafi dan Sawat yang bentuk motifnya juga dipengaruhi campuran budaya Hindu-Jawa.

Macam-macam motif batik Indramayu

Beberapa pola geometris juga menunjukkan secara jelas bahwa terjadi akulturasi budaya Cina dan Islam pada motif batik Si Juring, motif batik Pintu Raja dan motif batik Kembang Kapas. Sementara Motif pesisir ada pada Motif Etong, Motif kapal terdampar, Batik Motif Ganggeng, Batik Motif Kembang Gunda, Batik Motif Swastika, Motif batik Merak Ngibing, Motif Batik Kereta Kencana dan motif batik Kembang Kapas.

Motif batik Indramayu umumnya menggambarkan suasana pesisir, misalnya motifnya bergambar seseorang nelayan yang sedang mencari ikan di laut. Karakter lain dari baik Indramayu adalah batik bernuansa flora dan fauna. Dengan borgol dan banyak garis lengkung yang lancip (riritan), latar belakang putih dan warna gelap dan banyak titik-titik yang dibuat dengan teknik cocolan jarum, dan bentuk dari isen-isen (sawut) yang pendek dan kaku.

Pemahaman terhadap penggunaan warna pada ragam hias batik di daerah Indramayu disesuaikan dengan keyakinan bahwa usia menentukan penggunaan warna. Menurut para perajin batik setempat warna merah muda dan warna biru digunakan oleh para anak muda, warna biru dan merah digunakan oleh wanita setengah baya, dan paduan warna biru, coklat, hijau digunakan oleh kalangan orang tua. Meskipun begitu persepsi setiap orang terhadap warna-warna kain batik bukan menjadi batasan dalam menggunakannya

Batik complongan

Salah satu hasil karya cipta perajin batik Indramayu adalah Batik tulis Complongan, dengan ciri khas warna alami dengan motif lubang jarum yang sangat unik hingga membuat batik indramayu mulai berkibar di pasar lokal dan internasional, ditandai dengan permintaan yang terus meningkat dari tahun ke tahun.

Batik Complongan adalah salah satu teknik membatik dengan melubangi kain batik dengan deretan jarum membentuk pola tertentu yang menjadikan ciri khas batik tersebut. Complongan berasal dari kata complong dalam bahasa Indramayu (Dermayon) yang berarti melubangi. Lubang dibuat dengan jarum diameter kurang lebih 0,5 milimeter. Teknik ini dilakukan sebelum kain diwarnai atau setelah kain di-tembok dengan lilin. Tidak semua bagian kain dilubangi, hanya bagian tertentu yang telah di-tembok sesuai keinginan pembatiknya. Hasilnya berupa titik-titik kecil bak deretan semut yang mempercantik motif kain batik.

Alat complongan terbuat dari kurang lebih 30 mata jarum yang disusun beraturan, dijepit dua potong kayu dengan karet sebagai pengikat. Membuat complongan pada kain batik butuh waktu dua hingga empat hari, bergantung dari kerumitan motif batiknya. Alat complongan batik Indramayu Lubang-lubang halus itu akan menutup sendiri pada saat pewarnaan. Biasanya warna bintik-bintik halus mengikuti warna yang paling gelap atau warna terakhir dalam pewarnaan. Teknik batik Complongan akan terus dilestarikan oleh para perajin batik di Indramayu, meski dalam pengerjaan batik tradisional ini membutuhkan kesabaran dan keterampilan juga menambah wawasan desain untuk mengikuti selera pasar dengan tetap mempertahankan ciri khas pantura yakni garis-garis pantai yang dikombinasikan dengan warna alami.