Asal Usul Batik Lasem

sejarah Batik Lasem

Asal Usul Batik Lasem

Lasem merupakan salah satu wilayah yang terletak di tepi laut utara pulau Jawa, menurut sebagian pakar sejarah ialah tempat awal kali para orang dagang dari Cina mendarat di Indonesia. Lahirnya Batik Lasem pasti tidak terlepas dari sejarah serta pertumbuhan keberadaan orang- orang Tionghoa di Lasem. Tetapi demikian, sepanjang ini belum banyak dikenal secara tentu tentang sejarah kapan dimulainya pembatikan di Lasem.

keberadaan Batik Lasem berasal dari Serat Badra Santi dari Mpu santi Badra yang ditulis pada tahun 1479 Masehi, salah seseorang nakhoda kapal dari armada laut kekaisaran Ming di Cina di dasar pimpinan Laksamana Cheng ho yang bernama Bi Nang Un, mendarat bersama istrinya yang bernama Na Li Ni di tepi laut Regol Kadipaten Lasem yang saat ini diucap bagaikan tepi laut Binangun. Bi Nang Un merupakan seseorang yang berasal dari Campa ialah salah satu nama daerah di Indocina dekat Vietnam, Kamboja serta Laos yang pada dikala itu jadi bagian daerah kekaisaran Dinasti Ming.

Na Li Ni merupakan seseorang yang menggemari serta memahami bermacam kesenian semacam seni tari serta seni membatik. Dikala Gadis Na Li Ni mendarat di Lasem, dia memandang sebagian besar rakyat di Lasem hidup sangat miskin. Setelah itu Na Li Ni tergerak buat mengarahkan seni membatik serta seni menari kepada putra- putrinya dan para anak muda gadis yang lain di Halaman Banjar Mlati Kemadhung serta mulai memikirkan supaya bisa membatik dengan baik serta lebih berseni.

Dalam pertumbuhan setelah itu, warga Lasem paling utama yang Tiong Hoa banyak yang jadi pengusaha batik sehingga pada dikala itu nyaris segala pengusaha batik di Lasem merupakan ialah generasi Tiong Hoa. Oleh sebab itu, bukanlah mengherankan bila motif serta pewarnaan Batik Lasem lebih banyak dipengaruhi oleh budaya Cina. Tetapi saat ini, jadi pengusaha batik tidak cuma ditekuni oleh warga generasi Tionghoa saja namun pula ditekuni oleh warga Jawa.

Salah satu ciri yang menonjol dari Batik Lasem merupakan sebab batik Lasem ialah hasil akulturasi budaya Cina di pesisir pulau Jawa.

Tetapi Batik Lasem berbeda dengan batik Encim dari Pekalongan utamanya dalam tatawarnanya yang lebih mengacu pada tatawarna benda- benda porselin dari Dinasti Ming semacam corak merah, biru, merah biru, merah- biru serta hijau. Tidak hanya itu pemberian nama pada sehelai kain Batik Lasem pada biasanya bersumber pada tatawarnanya serta bukan bersumber pada pada macam hias semacam pada penamaan batik dari wilayah lain di Indonesia. Oleh sebab itu, ada sebutan Bang- bangan, kelengan, Bang biru, Bang- biru- ijo. Tatawarna ini ialah khas batik Tionghoa Lasem dimana biasanya tidak ada corak sogan. Batik Lasem populer hendak corak merahnya yang menyerupai corak merah darah serta cuma dapat ditemui pada pembatikan di Lasem. Corak merah khas Lasem dihasilkan dari perona alam yang berasal dari pangkal tumbuhan mengkudu (pace). Oleh karena itu, banyak batik dari wilayah lain yang corak merahnya dicelupkan di Lasem semacam misalnya batik Gondologiri dari Solo serta batik 3 negara yang ketiga rupanya dicelupkan ditempat yang berbeda- beda, ialah corak sogan di Solo, corak merah di Lasem serta corak biru di Pekalongan.

Buat pembuatan sehelai kain batik tulis Lasem dibutuhkan waktu yang lumayan lama ialah antara 3 hingga 6 bulan serta baru bisa dipasarkan. Perihal ini mengingat alat- alat yang dipakai masih sangat tradisional serta seluruh tahapan pembuatannya dicoba dengan memakai tangan. Batik Lasem terdiri dari 2 tipe, ialah batik Lasem kuno serta batik Lasem modern. Batik Lasem kuno terbuat dekat abad 20. Seluruh kain batik tersebut ialah kain batik tulis serta masih memakai perona natural.

Bersumber pada hasil analisis pada batik Lasem modern ditemui motif yang seragam dengan motif batik Lasem kuno, semacam motif tumbuhan hayat dari India serta motif buketan dari Belanda. Perihal ini menampilkan pelaksanaan macam hias batik Lasem kuno dengan batik Lasem modern masih mempunyai ikatan yang erat. Sama halnya dengan batik Lasem kuno, batik Lasem modern pula masih memadukan sebagian faktor budaya asing di dalamnya, salah satu budaya yang sangat mempengaruhi merupakan budaya Cina. Tidak hanya itu batik Lasem kuno serta Batik Lasem modern sampai dikala ini masih mempertahankan metode canting dalam proses membatik.

Walaupun demikian pengusaha batik Lasem sempat memproduksi batik cap, namun sebab tidak sanggup bersaing dengan batik printing dari wilayah lain, hingga pengusaha tersebut kembali memakai metode membatik tradisional ialah memakai canting dalam proses membatik. Batik tulis yang dibuat mempunyai keunggulan tertentu dibanding dengan batik cap ataupun printing, tidak hanya itu pula mempunyai nilai jual yang lebih besar. Oleh sebab itu, metode yang memakai canting tersebut masih dipertahankan sampai dikala ini.

Batik Lasem kuno ialah batik yang terbuat dekat abad ke- 14 hingga dengan saat sebelum kemerdekaan RI, sebaliknya batik Lasem modern ialah batik yang terbuat sehabis kemerdekaan RI hingga dengan dikala ini. Ilustrasi batik Lasem kuno yang penulis peroleh terbuat dekat abad ke- 20. Bersumber pada data- data tersebut bisa dilihat kalau batik Lasem kuno ialah perpaduan dari sebagian budaya, ialah budaya Champa, India, Belanda, Jawa, dan budaya yang sangat mempengaruhi merupakan budaya Cina. Perihal ini disebabkan dulu para pengusaha batik Lasem pada biasanya merupakan generasi Cina, konsumen mereka juga sebagian besar merupakan generasi Cina di Lasem ataupun di wilayah yang lain, oleh sebab itu motif yang digunakan merupakan motif- motif yang berasal dari budaya mereka sendiri. Motif yang kerap digunakan merupakan motif yang melambangkan keberuntungan, kebahagiaan, kesehatan, dsb. Beda halnya dengan batik Lasem modern yang banyak memakai macam hias baru semacam latohan, gunung ringgit, kricak, dll. Motif- motif baru tersebut menjadikan kehidupan sosial warga di Lasem bagaikan sumber inspirasi.